Periode Kritis Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) dalam Kompetisi dengan Gulma terhadap Pertumbuhan dan Hasil
DOI:
https://doi.org/10.29303/vhbnd845Kata Kunci:
bima, lahan sawah tadah hujan, waktu pengendalian, biomassa, intersepsi gulmaAbstrak
Penelitian ini bertujuan menentukan periode kritis bawang merah (Allium ascalonicum L.) dalam kompetisi dengan gulma pada kondisi lahan sawah tadah hujan di Nusa Tenggara Barat serta menentukan waktu pengendalian gulma yang tepat. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 20 perlakuan, yaitu periode tanaman bebas gulma dan bergulma selama 1–10 minggu setelah tanam (MST), dengan tiga blok. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan dan hasil bawang merah serta populasi dan biomassa gulma. Data dianalisis menggunakan analisis varian, uji BNJ 5%, analisis regresi-korelasi, dan William’s t-test. Hasil menunjukkan periode kritis bawang merah dalam kompetisi dengan gulma terjadi pada umur 4–5 MST. Keberadaan gulma sampai umur 5 MST masih dapat ditoleransi, tetapi penundaan pengendalian setelah periode tersebut menyebabkan pertumbuhan dan hasil tidak dapat dipulihkan. Bawang merah yang berkompetisi dengan gulma selama 5–10 MST mengalami penurunan hasil 64,759%–99,992%, sedangkan tanaman yang bebas gulma hanya sampai umur 1–3 MST mengalami penurunan hasil hingga 99,992%. Hasil ini memperkuat informasi mengenai periode kritis bawang merah pada kondisi lahan sawah tadah hujan di NTB. Pengendalian gulma perlu dilakukan sebelum atau memasuki periode kritis, dan tidak ditunda setelah tanaman berumur 5 MST.








