Pengaruh Durasi Accelerated Aging Test (AAT) dan Suhu Penyimpanan terhadap Mutu Fisiologis serta Pendugaan Daya Simpan Benih Tomat (Solanum lycopersicum L.)
DOI:
https://doi.org/10.29303/7yywsa74Kata Kunci:
accelerated aging test, vigor benih, daya simpan benih, benih tomat, mutu fisiologisAbstrak
Metode Accelerated Aging Test (AAT) merupakan metode pengusangan cepat yang efektif untuk menduga vigor dan daya simpan benih melalui simulasi kondisi penyimpanan tidak optimal. Metode ini penting diterapkan pada benih tomat (Solanum lycopersicum L.), yang merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi namun rentan mengalami penurunan mutu selama penyimpanan akibat deteriorasi benih. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh durasi AAT, suhu penyimpanan, serta interaksinya terhadap mutu fisiologis benih tomat, sekaligus mengidentifikasi hubungan antarvariabel viabilitas dan vigor benih. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi (split plot design) dengan suhu penyimpanan sebagai petak utama (5°C, 20°C, dan 35°C) dan durasi AAT sebagai anak petak (0, 24, 48, dan 72 jam), masing-masing diulang tiga kali. Perlakuan AAT dilakukan pada suhu 41°C dengan kelembapan relatif ±95%. Variabel yang diamati meliputi daya berkecambah, kecepatan tumbuh, benih segar, benih kering, dan panjang kecambah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan suhu dan durasi AAT menurunkan seluruh variabel mutu fisiologis benih, sedangkan suhu rendah (5°C) mampu mempertahankan viabilitas dan vigor lebih baik dibandingkan suhu 20°C dan 35°C. Analisis korelasi menunjukkan hubungan positif sangat kuat antarvariabel viabilitas dan vigor, yang mengindikasikan keterkaitan erat dalam menentukan kualitas benih. Secara keseluruhan, metode AAT efektif digunakan untuk mensimulasikan proses penuaan benih secara cepat dan menduga daya simpan serta mutu fisiologis benih tomat secara lebih akurat.








