Perbedaan Karakteristik Ekologis Sampah Organik dari Sumber Pasar Tradisional dan Food Court Melalui Pengomposan Aerob

Authors

DOI:

https://doi.org/10.29303/13ye7w04

Keywords:

Ekologis, Kompos, Pupuk Organik Cair, SDGs 12, Sampah Organik

Abstract

Sampah organik dari sisa sayuran, buah tidak layak konsumsi, dan limbah makanan pedagang merupakan permasalahan yang membutuhkan penanganan tepat. Cara memanfaatkan sampah organik dengan mengolah sampah menjadi kompos. Penelitian ini menggunakan metode observasional deskriptif. Penelitian ini bertujuan membandingkan karakteristik awal dan akhir ekologis sampah organik dari Pasar Tradisional dan Food Court. Parameter ekologis meliputi kompos padat (kadar air, suhu, warna, bau, rasio C/N, dan pH) dan pupuk organik cair (nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), dan pH), lalu dibandingkan dengan baku mutu SNI 19-7030-2004. Hasil penelitian diperoleh karakteristik awal pada sampah Pasar Tradisional didominasi batang sayur bayam yaitu 17,23%, berwarna dan hijau segar serta bau khas bahan segar, sampah Food Cout didominasi sepenuhnya sisa makanan dan lauk-pauk yang bercampur dengan kuah, berwarna orange kekuningan serta bau yang lebih menyengat. Hasil uji kualitas kompos kadar air yaitu 15,2% untuk sampah pasar tradisional dan 17,7% untuk sampah Food Court, serta rasio C/N tinggi pada sampah Pasar Tradisional yaitu 144,65 dan kompos padat Food Court sebesar 59,49. Tingginya rasio C/N pada sampah Pasar Tradisional, mengindikasikan proses dekomposisi belum optimal. Perbandingan standar kualitas kompos (SNI) 19-7030-2004, parameter yang memenuhi baku mutu adalah N-total kompos padat serta nitrogen pada kompos cair. Parameter lain belum mencapai kondisi yang sesuai dengan standar, sehingga menunjukkan bahwa kompos yang dihasilkan memerlukan waktu lebih lama untuk proses pematangan.

Downloads

Published

2026-05-18

How to Cite

Perbedaan Karakteristik Ekologis Sampah Organik dari Sumber Pasar Tradisional dan Food Court Melalui Pengomposan Aerob. (2026). Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agrokomplek, 5(2), 180-191. https://doi.org/10.29303/13ye7w04