Penampilan Reproduksi Sapi Bali Betina pada Sistem Pemeliharaan Intensif di Kecamatan Kediri Kabupaten Lombok Barat

Penulis

DOI:

https://doi.org/10.29303/yga3w654

Kata Kunci:

sapi bali, reproduksi, service per conception, conception rate

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penampilan reproduksi sapi Bali betina yang dipelihara secara intensif di Kecamatan Kediri, Kabupaten Lombok Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan September–Oktober 2024 menggunakan metode deskriptif terhadap 91 ekor sapi Bali betina yang dipilih secara proporsional dari tiga desa dengan populasi ternak tertinggi. Variabel yang diamati meliputi umur pubertas, siklus estrus, service per conception (S/C), non return rate (NRR), conception rate (CR), lama bunting, dan calving interval (CI). Data diperoleh melalui wawancara peternak, observasi lapangan, serta pencatatan inseminator dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur pubertas rata-rata sapi Bali betina adalah 19,9 bulan, siklus estrus 19,7 hari, nilai S/C sebesar 2,0 kali, NRR 35,16%, CR 35,16%, lama bunting 9,13 bulan, dan CI 14,4 bulan. Umur pubertas, siklus estrus, nilai S/C, dan lama bunting masih berada pada kisaran normal sesuai standar reproduksi sapi Bali. Namun demikian, rendahnya nilai NRR dan CR serta tingginya nilai CI menunjukkan bahwa efisiensi reproduksi belum optimal. Kondisi tersebut diduga berkaitan dengan ketepatan deteksi birahi, manajemen reproduksi, dan keterampilan teknis dalam pelaksanaan inseminasi buatan. Peningkatan kapasitas peternak dalam deteksi estrus dan manajemen reproduksi diperlukan untuk meningkatkan keberhasilan reproduksi sapi Bali di wilayah penelitian.

Referensi

Akriono, M. L., S. Wahjuningsih, dan M. N. Ihsan. 2019. Performans reproduksi Sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin di Kecamatan Padang Kabupaten Lumajang. J. Trop. Anim. Prod. 18(1):77–81.

Astuti, M. 2004. Potensi dan Keragaman Sumberdaya genetik Sapi Peranakan Ongole (PO). Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. http://peternakan. litbang. deptan. go.id/publikasi /wartazoa.

Bakhtiar, Yusmadi, dan Jamaliah. 2015. Study of Reproduction Performance Aceh Cattle as the Basis for Information the Germplasm Preservation of Local Livestock. Jurnal Ilmiah Peternakan 3 (2) : 29-33.

Direktorat Jendral Peternakan. 1991. Petunjuk Teknis Pelayanan Inseminasi Buatan Terpadu. Direktorat Jendral Bina Produksi Universitas Andalas. Padang

Fanani, S., Subagyo, Y.B.P., dan Lutujo. 2013. Kinerja Reproduksi Sapi Perah Peranakan Friesian Holstein (PFH) di Kecamatan Budak, Kabupaten Ponorogo. Fakultas Pertanian. Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Feradis. 2010. Bioteknologi Reproduksi pada Ternak. Afabeta, Bandung.

Iskandar. 2011. Performan Reproduksi Sapi PO pada Dataran Rendah dan Dataran Tinggi di Provinsi Jambi. Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Peternakan 14(1): 51-61.

Jainudeen, M.R., dan E.S.E Hafez. 2000. Gestation, Prenatal physiology and parturition. Di dalam: Hafez ESE, Hafez B, editor. Reproduction in farm animals: Ed ke 7. Lippincott. Williams & Wilkins.

Lestari. 2012. Produktivitas, potensi dan prospek pengembangan sapi bali (Bos javanicus) di desa Pa’rappunganta Kabupaten Takalar Sulawesi Selatan. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Nuryadi dan S. Wahjuningsih. 2011. Penampilan reproduksi sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin di Kabupaten Malang. J. Ternak Tropika. 12 (1): 76-81.

Oka IGL. 2010. Conservation and genetic improvement of Bali Cattle.Proc. Conservation And Improvement of Wordl Indigenous Cattle. 110-117.

Purwantara, B., R.R. Noor., G. Andersson dan M.H. Rodriguez. 2012. Banteng and Bali Cattle in Indonesia: Status and Forecasts. Reprod Dom Anim 47 (Suppl. 1), 2–6.

Sudita, I. D. N. 2020. Pemenuhan Nutrien Pada Ransum Untuk Sapi Bali. Scopindo Media Pustaka. Surabaya. 96 hal.

Susilowati, T. 2011. Spermatologi. Universitas Brawijaya Press. Malang.

Diterbitkan

2025-09-25

Terbitan

Bagian

Articles