Perjalanan Udara dengan Penyakit Paru

Penulis

  • Mc Syaiful Ghazi Yamani Program Pendidikan Dokter Spesialis Pulmonologi dan Kesehatan Respirasi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Mataram, Mataram, Indonesia
  • Indana Eva Ajmala Departemen Pulmonologi dan Kesehatan Respirasi, RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram, Indonesia
  • Salim S. Thalib Departemen Pulmonologi dan Kesehatan Respirasi, RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram, Indonesia
  • Gemilang Khusnurrokhman Departemen Pulmonologi dan Kesehatan Respirasi, RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram, Indonesia
  • Prima Belia Fathana Departemen Pulmonologi dan Kesehatan Respirasi, RSUD Provinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram, Indonesia

DOI:

https://doi.org/10.29303/7tj7c298

Kata Kunci:

Perjalanan Udara, Hypoxic Challenge Test, Oksigen dalam Penerbangan

Abstrak

Perjalanan udara pada umumnya aman bagi individu sehat, namun pada pasien dengan penyakit pernapasan diperlukan pertimbangan medis yang cermat karena paparan hipoksia hipobarik setara ketinggian kabin hingga 2438 m dapat memicu hipoksemia bermakna. Gangguan pernapasan menyumbang sekitar 12% dari seluruh keadaan darurat medis dalam penerbangan dan menjadi salah satu penyebab utama pengalihan penerbangan. Sebagian besar kejadian tersebut berkaitan dengan kondisi medis yang telah ada sebelumnya. Oleh karena itu, skrining dan evaluasi pra-penerbangan yang sistematis menjadi strategi penting untuk mencegah komplikasi selama dan setelah perjalanan udara.

Diterbitkan

2026-05-16