Religion, Culture, and State Journal https://journal.unram.ac.id/index.php/rcs <p>Religion, Culture, and State (RCS) journal is a multi-disciplinary peer-review journal focused on religion, culture, local traditions, and politics. The journal received social science research results, including Sociology, Anthropology, communication, international relations, law, and various other interdisciplinaries. CRCS jounral managed by Study Center of Islamic Culture and Society (ICS) Universitas Mataram.&nbsp;</p> <p><strong>Indexed By</strong></p> <p><a title="Google Scholar" href="https://scholar.google.com/citations?hl=id&amp;view_op=list_works&amp;gmla=AJsN-F5cF0vObdYK9P3c3-XP1ac8xnZ-pf3TmVWOTHQdHL6uFN9aXDw-ZEELdCtQNi6SzuSgz5itBIzvCY2SEmCsM0UH-JkJzD6FxyffT_do7_r5L_R6rO4&amp;user=MzXr7qAAAAAJ" target="_blank" rel="noopener"><img src="/public/site/images/pulham/Google_scholar1.png"></a></p> Universitas Mataram en-US Religion, Culture, and State Journal 2807-6826 Ritual Ngaben Dalam Praktik Keagamaan Komunitas Hindu Bali Di Lingkungan Batudawa, Mataram https://journal.unram.ac.id/index.php/rcs/article/view/362 <p>Penelitian yang berjudul “Ritual <em>Ngaben</em> Dalam Praktik Keagamaan Komunitas Hindu Bali Di Lingkungan Batudawa, Mataram” bertujuan untuk melihat bagaimana konstruksi ritual <em>ngaben </em>bagi masyarakat, proses pelaksanaan dalam upacara <em>pengabenan</em>, pergeseran makna, dan bagaimana dampak ekonomi dari pelaksanaan ritual<em> pengabenan</em>. Dalam menganalisis penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial yang dikemukakan oleh Peter L. Berger dan Luckmann dan teori solidaritas sosial yang dikemukakan oleh Emile Durkheim. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi. Penentuan informan penelitian ini menggunakan <em>purposive</em> sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan teknik keabsahan data. Data dianalisis dengan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa masyarakat menkonstruksikan ritual <em>ngaben</em> merupakan suatu tradisi yang sudah ada sejak lama yang telah dilaksanakan berulang kali oleh masyarakat. Adanya faktor-faktor seperti mempertahankan tradisi dan menjalankan kewajiban sebagai umat Hindu, selain itu terdapat nilai-nilai yang terkandung dalam pelaksanaan <em>ngaben</em> bagi masyarakat seperti nilai kekeluargaan dan solidaritas sosial membuat ritual ini masih terjaga hingga saat ini.</p> <p>Dalam pelaksanaan ritual <em>ngaben </em>di Lingkungan Batudawa terdapat proses yang harus di lewati terlebih dahulu sebelum melaksanakan ritual antara lain: meminta hari baik untuk <em>ngaben</em>, pemberitahuan kepala banjar kepada masyarakat dan yang terakhir adalah pelaksanaan ritual <em>ngaben</em>. Terdapat pergeseran makna <em>ngaben</em> bagi masyarakat pada saat ini dikarenakan perkembangan zaman saat ini yang berimbas pada berubahnya hubungan solidaritas dalam masyarakat dan adanya pembagian kelas sosial dalam pelaksanaan ritual <em>ngaben</em>. Dalam pelaksanaan <em>ngaben</em> sudah umum dalam pengetahuan masyarakat bahwa membutuhkan biaya yang banyak untuk menjalankan ritual ini. Seringkali masyarakat memaksakan diri untuk melaksanakan pengabenan karena gengsi melihat orang lain, membuat adanya praktek-praktek seperti menjual harta benda dan meminjam uang untuk melaksanakan <em>ngaben</em>. Adanya praktek-praktek seperti ini sudah menjadi hal yang biasa dalam pengetahuan masyarakat.</p> I Putu Eka Perdana Saipul Hamdi Taufiq Ramdani Copyright (c) 2022 RELIGION, CULTURE & STATE JOURNAL 2022-04-15 2022-04-15 2 1 1 33 FAKTOR RESIKO STUNTING DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB), INDONESIA https://journal.unram.ac.id/index.php/rcs/article/view/693 <p><em>Stunting </em>patut mendapat perhatian lebih karena dapat berdampak &nbsp;pada tumbuh kembang anak, terutama risiko gangguan perkembangan fisik dan kognitif apabila tidak segera ditangani dengan baik. Tulisan ini dibuat dengan melakukan tinjauan pustaka dari berbagai sumber khususnya menggunakan data sekunder dari beberapa <em>search engine. </em>Berdasarkan hasil identifikasi dan telaah beberapa sumber, dapat disimpulkan bahwa berbagai faktor risiko terjadinya stunting di NTB dapat berasal dari faktor ibu, anak, maupun lingkungan. Faktor ibu meliputi usia ibu saat hamil, , pemberian ASI ataupun MPASI, inisiasi menyusui dini dan kualitas makanan; faktor anak dapat berupa riwayat berat badan lahir rendah (BBLR) ataupun prematur, adanya riwayat penyakit neonatal, riwayat diare yang sering dan berulang, riwayat penyakit menular, dan anak tidak mendapat imunisasi; adapun faktor&nbsp; lingkungan dengan status sosial ekonomi yang rendah, pendidikan keluarga terutama ibu yang kurang, pendapatan keluarga yang kurang, kebiasaan buang air besar di tempat terbuka seperti sungai atau kebun ataupun jamban yang tidak memadai, &nbsp;dan air minum yang tidak diolah. &nbsp;Diharapkan tulisan ini dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan kebijakan terhadap populasi terkait, khususnya anak-anak di&nbsp; Nusa Tenggara Barat, Indonesia.</p> Wahyu Hidayat Yusuf Copyright (c) 2022 RELIGION, CULTURE & STATE JOURNAL 2022-04-15 2022-04-15 2 1 34 45 We Do Not Worship Buddha Images https://journal.unram.ac.id/index.php/rcs/article/view/352 <p>The stereotyping view of radical Islamic groups manifested in verbal violence against other religious groups is increasingly growing freely along with the expansion of public communication spaces in cyberspace. This has made it even more frustrating for people of other religions to respond to this bullying. Religious minorities, such as Buddhists, also use information technology to express responses to negative stereotypes. In Indonesia, Buddhism often gets a negative impression because it is considered as "idol worship", something which for Muslims, as the majority group, is the biggest sin. This mistaken view of Buddhists has not only resulted in a bad view of Buddhists, but has led to violence as evidenced by the case of lowering the Buddha statue in TanjungBalai. Buddhists who are based on the moral teachings of self-control try not to give a negative response that is reactive, but they appear increasingly progressive in spreading the “right view” of their teaching principles so that they are no longer misunderstood and become objects of discrimination. Apart from being in the form of lectures disseminated in online media, efforts to provide religious literacy education are also conveyed through short stories and popular songs. Through content analysis, this paper will describe various ways of public communication of Buddhists to overcome negative stereotyping about them, especially the perception of being "idolaters". Also see to what extent the effectiveness of this monologue-impressed communication is conveyed to those who bully.</p> <p>&nbsp;</p> latifah Ary Budiyanto Copyright (c) 2022 RELIGION, CULTURE & STATE JOURNAL 2022-04-15 2022-04-15 2 1 46 61 Discourse on ‘Islam’ and ‘Kafir’ in 2019 Indonesia Presidential Election https://journal.unram.ac.id/index.php/rcs/article/view/353 <p>The development of digital technology disrupts all aspects of people's lives. Digital technology facilitates the development of social media, a platform on which everyone can produce content to promote the right to freedom of expression. Therefore, at the beginning of its development, it is assumedthat it will improve the quality of democracy. However, reality shows some paradox, such as the political discourse is strongly influenced by new actors, called the influencers and they influence the voters strongly. One of the popular topics developed by influencers in the 2019 Indonesian presidential election are Islam and <em>Kafir (</em>unbelievers).The aim of this study is to examines the discourse of Islam and <em>Kafir i</em>n Twitter and their impact on the development of democracy in Indonesia. The data was collected on 7 days Twitter dataset ( 3 days before election day, the election day, and 3 days after the election day). By using topic model and critical discourse analysis (CDA), it shows that the discourse of <em>Kafir </em>or the disbelief was used to mocking supporters of other candidates who were considered less Islamic. Interestingly, the socalled unbelieversupporters used „re- signification‟ as a way to attack the opponent. Thes tudy shows that both of candidates use Islamic discourse to get voter support. As a result, discourses of Islam and <em>Kafir</em>contain a lot of verbal violence, thathas the potential to reduce the quality of democracy in the digital era.</p> <p>&nbsp;</p> Nina Widyawati Ana Windarsih Purnama Alamsyah Copyright (c) 2022 RELIGION, CULTURE & STATE JOURNAL 2022-04-15 2022-04-15 2 1 62 82 Counter-Terrorism Strategy in Indonesia https://journal.unram.ac.id/index.php/rcs/article/view/484 <p>In this digital era, it is very important to have various strategic policies to counter terrorism in many aspects, including from linguistic point of view. It is a fact that the world is multilingual and the multilingualism management constitutes a problem to be overcome (Calvet 1998), especially how to prevent the spirit of terrorism from affecting the language use of Indonesian multilingual communities. A language policy (Spolsky 2009) includes diverse domains such as education, family, government, etc. From some studies that I have done regarding language policy in Indonesia there has never been a policy related to how linguistic strategies to counter terrorism. Based on that condition, my study is very significant to give contribution for peace Indonesia. This study was done by using secondary and primary data. This paper tries to explain how is the strategy to overcome terrorism from lingusitic point of view. It seems that the language policy in Indonesia has not accommodated strategic steps how to linguistically deal with terrorism both in the regulatory aspects and at the level of implementation in the community so that it is necessary to immediately revise the existing language regulations both at national and local levels.</p> <p>&nbsp;</p> Fanny Henry Tondo Copyright (c) 2022 RELIGION, CULTURE & STATE JOURNAL 2022-04-17 2022-04-17 2 1 83 92 The Violence in the Name of God https://journal.unram.ac.id/index.php/rcs/article/view/392 <p>The thoughts and actions of religious radicalism in Indonesia are increasingly massive and hard to prevent. The existence of this group is neatly organized with the large followers, especially among young people. Their understanding of Islam is very textual-atomistic. Theirslogan conveys the enforcement of the caliphate or the law of Allah in the totality of human life both in society and a state. The presence of this group greatly threatens the existence of ukhuwah Islamiyah and ukhuwainsaniyah. The struggle against the threat in Indonesia requires a coherent and comprehensive strategy. The better religious understanding of current religious change and thecontinuous support from all parties; in terms of religious tolerance should be encouraged to stem the songs of hard-line Islamic groups. The government must seriously increase preaching by preachers, especially those published on YouTube, and well-known writings on various sites. In addition, the government must make serious efforts continuously; to support the interfaith dialogue and increase the public awareness about the dangers of radicalism in social and state life.</p> Samsi Pomalingo Fahimah M. Mooduto Arfan Nusi Copyright (c) 2022 RELIGION, CULTURE & STATE JOURNAL 2022-04-17 2022-04-17 2 1 93 107 KEPERCAYAAN (BELIEF) MASYARAKAT LOKAL PADA NILAI-NILAI MISTIK MASJID KUNO REMBITAN DI DESA REMBITAN, KECAMATAN PUJUT, KABUPATEN LOMBOK TENGAH. https://journal.unram.ac.id/index.php/rcs/article/view/361 <p><em>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai mistik pada Masjid Kuno Rembitan di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Masjid Kuno Rembitan merupakan salah satu situs peninggalan tertua dan bersejarah di Pulau Lombok yang didirikan oleh seorang wali yang bernama Wali Nyatok pada abad Ke-16 sekaligus da’i atau penyebar agama Islam di Pulau Lombok bagian Selatan. Keberadaan Masjid Kuno Rembitan masih banyak masyarakat belum mengetahui sejarahnya. Masjid Kuno Rembitan berfungsi sebagaimana fungsi masjid pada umumnya. Terdapat juga beberapa fungsi Masjid Kuno Rembitan yang membedakannya dengan fungsi masjid pada umumnya dan masjid kuno yang ada di Pulau Lombok yakni sebagai tempat masyarakat Rembitan melaksanakan tradisi-tradisi tertentu. Selain itu, yang tergolong khas dan unik dari Masjid Kuno Rembitan sekaligus pembeda dengan masjid kuno yang ada di Pulau Lombok ini ialah setiap struktur bangunan memiliki makna atau nilai filosofi dan terdapat kepercayaan nilai mistik pada Masjid Kuno Rembitan yang diyakini oleh masyaratat Rembitan sampai pada saat ini. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) </em><em>Sejarah, struktur dan nilai filosofi bangunan, dan tradisi masyarakat di Masjid Kuno Rembitan di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, dan </em><em>2) Kepercayaan masyarakat pada n</em><em>ilai-nilai mistik di Masjid Kuno Rembitan. </em><em>Penelitian ini menggunakan metode penelitian Kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi dan menggunakan Teori Konstruksi Peter L. Berger dan Thomas Luckman sebagai alat analisa. Adapun teknik penentuan informan ialah menggunakan teknik purposive sampling. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Masjid Kuno Rembitan didirikan oleh Wali Nyatok pada abad Ke-16 yang diyakini berasal dari Bagdad Asia Timur Tengah. Nilai-nilai mistik pada Masjid Kuno Rembitan merupakan sebuah hasil konstruksi masyarakat melalui intraksi 3 (tiga) proses dialektika. Pertama, proses eksternalisasi yang terdapat pada Masjid Kuno Rembitan dapat ditemukan yang digunakan sebagai tempat masyarakat Rembitan melaksanakan tradisi-tradisi seperti tradisi angsor, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, Maulid dan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, </em><em>tradisi mal-mal, dan tradisi membayar nazar. Kedua, proses obyektivasi pada Masjid Kuno Rembitan terdapat pada aturan dalam pembayaran nazar bahwa bagi masyarakat yang meminta hajat pada Masjid Kuno Rembitan, kemudian hajat tersebut terwujud, maka diharuskan membayar nazar pada masjid kuno menggunakan serabi dan daun pare yang dicampur dengan biji antap hijau yang dibuat sayur santan. Hal ini merupakan sebuah aturan yang berada di luar diri individu yang bersifat memaksa. Kemudian, pada Masjid Kuno Rembitan terdapat pula nilai-nilai filosofi pada struktur bangunan masjid sebagai suatu kenyataan objektif. Ketiga, proses internalisasi pada Masjid Kuno Rembitan berlangsung melalui sosialisasi primer maupun sekunder. Pada Masjid Kuno Rembitan, sosialisasi yang terdapat pada masyarakatnya ialah sosialisasi primer, dimana orangtua mengajarkan generasinya ikut dalam perayaan atau tradisi-tradisi pada Masjid Kuno Rembitan.</em></p> Muhammad Irham Hadi Saipul Hamdi Azhari Efendi Copyright (c) 2022 RELIGION, CULTURE & STATE JOURNAL 2022-04-17 2022-04-17 2 1 108 135