Penyalahgunaan Keadaan Sebagai Cacat Kehendak Dalam Perjanjian
DOI:
https://doi.org/10.29303/0s93nb24Keywords:
penyalahgunaan keadaan; misbruik van omstandigheden; cacat kehendak; wilsgebreken; hukum perdataAbstract
Dinamika perkembangan hukum kontrak kontemporer menunjukkan semakin kompleksnya relasi hukum antarpara pihak yang dalam praktiknya tidak selalu berada pada posisi yang seimbang, sehingga berpotensi melahirkan praktik penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden) yang dapat memengaruhi kebebasan kehendak (wilsvrijheid) para pihak dalam pembentukan perjanjian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kedudukan penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden) sebagai bentuk cacat kehendak (wilsgebreken) dalam sistem hukum perjanjian Indonesia berdasarkan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), serta mengkaji implikasi hukumnya terhadap keabsahan perjanjian melalui studi terhadap Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3406 K/Pdt/2019. Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan, konseptual, kasus yang diperkuat melalui wawancara akademik dengan ahli hukum perdata, serta studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun doktrin penyalahgunaan keadaan belum memperoleh pengaturan eksplisit dalam KUHPerdata, eksistensinya telah diakui melalui perkembangan doktrin dan yurisprudensi sebagai bentuk cacat kehendak yang memiliki keterkaitan konseptual dengan unsur paksaan (dwang), dengan perbedaan bahwa tekanan timbul dari kondisi tertentu yang dimanfaatkan pihak dominan (economische overwicht). Konsekuensi yuridisnya menyebabkan perjanjian bersifat dapat dibatalkan (vernietigbaar), bukan batal demi hukum (nietig van rechtswege), sehingga diperlukan penguatan pengaturan normatif guna menjamin kepastian hukum (rechtszekerheid) dan perlindungan hukum (rechtsbescherming) terhadap para pihak.
References
DAFTAR PUSTAKA
Arrodli, A. J., Ramadhan, A., Pamungkas, D. D., Muhammad, D. Z., dan Anugrah, D. ‘Konsekuensi Hukum Cacat Kehendak dalam Pembentukan Perjanjian Sesuai Pasal 1320 KUHPerdata’. Letterlijk: Jurnal Studi Hukum 1, no. 2 (2024): 204–216.
Azzahra, S. M., dan Gozali, D. S. ‘Penerapan Doktrin Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) dalam Sengketa Perjanjian’. Jurnal Kolaboratif Sains 8, no. 6 (2025): 3778–3789.
Badrulzaman, Mariam Darus, dkk. Kompilasi Hukum Perikatan. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2001.
Clarins, Sharon. ‘Penerapan Doktrin Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) dalam Putusan Pengadilan Indonesia’. Dharmasisya: Jurnal Program Magister Hukum FHUI 2, no. 2 (2022): Article 1.
Febrianto, B., dan Cahyono, A. B. ‘Implementasi Doktrin Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) dalam Perkara Jual Beli dengan Surat di Bawah Tangan (Studi Kasus: Putusan Nomor 243/Pdt.G/2020/PN Mdn dan Putusan Nomor 101/Pdt/2021/PT Mdn)’. Lex Patrimonium 2, no. 2 (2023): 5.
Hernoko, Agus Yudha. Hukum Perjanjian: Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial. Jakarta: Prenadamedia Group, 2010.
Indonesia. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Burgerlijk Wetboek). Diterjemahkan oleh R. Subekti dan R. Tjitrosudibio. Jakarta: Pradnya Paramita.
Lubis, Taufik Hidayat. ‘Hukum Perjanjian di Indonesia’. Jurnal Sosial dan Ekonomi 2, no. 3 (2022): 182.
Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3431 K/Pdt/1985, Ny. Toetik Prasetyo Luhur vs. Ny. Boesono cs. Jakarta: Mahkamah Agung, 1985.
Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3406 K/Pdt/2019. Jakarta: Mahkamah Agung, 2019.
Mahkamah Agung Republik Indonesia. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3550 K/Pdt/2021. Jakarta: Mahkamah Agung, 2021.
Medahalyusa, J. A., dan Busro, A. ‘Akibat Hukum Pembatalan Perjanjian yang Dibuat atas Dasar Penyalahgunaan Keadaan’. Notarius 16, no. 2 (2023): 631–647.
Muhammad, Abdulkadir. Hukum Perdata Indonesia. Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2014.
Nata, O. ‘Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) Psikologis sebagai Salah Satu Faktor Cacat Kehendak dalam Perjanjian’. Lex Positivis 2, no. 5 (2024): 613–638.
Panggabean, H.P. Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) Sebagai Alasan (Baru) untuk Pembatalan Perjanjian (Berbagai Perkembangan Hukum di Belanda). Yogyakarta: Liberty, 1992.
Ramadhani, A., Arif, M., Sulistio, V. L., Purnama, D. V. P., dan Dzulfikar Ramadhan, M. ‘Kepastian Hukum terhadap Pembatalan Perjanjian Menggunakan Unsur Penyalahgunaan Keadaan’. Notaire 7, no. 3 (2024).
Raysah Afdila Fachriah dan Nuzul Rahmayani. ‘Analisis Hukum Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) sebagai Suatu Bentuk Cacat Kehendak Ditinjau dari Hukum Perjanjian Indonesia’. Jurnal Riset Rumpun Ilmu Sosial, Politik dan Humaniora 5, no. 2 (2026): 862–872.
Rivana, Amien. ‘Penyalahgunaan Keadaan sebagai Faktor Pembatalan Jual Beli Tanah Berdasarkan Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 3406 K/Pdt/2019’. Skripsi. Jakarta: Universitas Nasional, 2022.
Salam, M. N., HS, S. S., dan Munandar, A. ‘Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) yang Mengakibatkan Batalnya Perjanjian (Studi Kasus Putusan Nomor 234/Pdt.G/2020/PN Mtr)’. Indonesia Berdaya 4, no. 2 (2023): 467–476.
Saputra, Reza. Kedudukan Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden) dalam Hukum Perjanjian Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2019.
Suhendar, Heris, dan Mohamad Anton Athoillah. ‘Pertimbangan Hakim dalam Perkara Penyalahgunaan Keadaan (Misbruik van Omstandigheden)’. Jurnal Yudisial 16, no. 2 (2023): 250–268.
Van Dunne dan Van der Burght. Penyalahgunaan Keadaan. Diterjemahkan oleh Sudikno Mertokusumo. Yogyakarta: Dewan Kerjasama Ilmu Hukum Belanda dengan Indonesia Proyek Hukum Perdata, 1987.
Widia, I. K., dan Budiartha, I. N. P. ‘Cacat Kehendak sebagai Dasar Batalnya Perjanjian’. Kertha Wicaksana: Sarana Komunikasi Dosen dan Mahasiswa 16, no. 1 (2022): 1–6.






